Home » , » Cara Menaklukkan Hujan

Cara Menaklukkan Hujan

Written By Rio Gonzales on Sunday, December 9, 2012 | Sunday, December 09, 2012

 
Cara Menaklukkan Hujan

 
 Hujan itu sebuah pertanda berkah. Sedangkan banjir itu mungkin pertanda musibah. Namun tak usah memusingkan mana yang benar & salah dari keduanya, karena memang diciptakan seperti itu adanya. Yang saling melengkapi satu sama lain. Walau terkadang berbeda haluan. Layaknya sebuah agama.

Tak mengherankan, jika disatu sisi ada yang suka dengan derasnya hujan. Dan disisi lainnya, ada juga yang tak suka dengan kelembaban hujan. Bagi yang suka akan menikmatinya, seperti bocah kecil yang baru lahir. Tidak peduli akan bahaya sakit sesudahnya. Inilah potret nyata dari sebagaian dari manusia di negeri ini. Yang pendudukanya masih dilanda kemiskinan panjang, sehingga tak ada kata berdiam diri dalam kondisi apa pun termasuk saat hujan tiba.

Ada yang bergerombol mencari sesuap nasi, dari perubahaan siklus alam ini. Dengan cara bekerja serambutan menjadi “ Tukang Ojek Payung “, bukan gambaran asing lagi bukan. Ketika kita melihat banyaknya lalu lalang, gerombolan anak kecil ditengah petir yang sedang menggelegar membawa sebuah payung besar. Yang lucunya, payung yang ia bawa tersebut, tanpa ia pakai sendiri untuk melindungi tubuhnya kurus kering dari derasnya guyuran hujan.

Siapa yang peduli dari mana asal mereka, terlebih bagaimana latar belakang ! Semua orang, seakan hanya terpanas kosong. Melihat tingkah laku mereka, yang rela menukar kondisi kesehatan mereka demi senggagam uang receh 1000-2000 rupiah. Membingungkan, ketika banyak dari kita yang justru mencari jalan aman dalam setiap kondisi yang berbahaya bagi kesehatan terlebih bagi keuangan.

Terkadang banyak sindiran negatif yang sering mendarat mulus di telinga bocah kecil seperti mereka itu. Apakah mereka tidak punya orang tua yang sanggup menghidupi mereka, atau jangan-jangan semua ini hanya tipuan muslihat dari para orang tua. Yang dengan sengaja memanfaatkan anak lugu seperti mereka. Entahlah, ketika semua jawaban tersebut. Hanya mereka & Tuhanlah yang tahu pasti.

Namun tinggalkanlah sejenak, berita negatif yang ada. Mari nikmati apa yang meraka sajikan, tanpa mengurangi daya & upaya yang telah mereka lakukan. Seakan gemercik langkah kaki mereka, menjadi pelengkap dalam sunyinya hujan. Dan menjadi kenangan setelah pelangi 7 warna, muncul batang hidupnya dilangit biru. Yang bisa kita nikmati, tanpa harus saling melukai. 

Meski rupiah demi rupiah yang didapatkan, harus dibayar setimpal dengan dinginnya rintik hujan yang turun membasi permukaan tanah. Sering kali, nikmatnya masa kecil tak selalu indah seperti yang sering kita dengar dalam cerita Dongeng. Jika tak begini adanya, mungkin nasib mereka akan sama saja dikehidupan yang akan datang. Terlebih sudah mati, jadi abu karena tak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan. Yang tak mengenal kata belas kasihan.

Kesimpulan :Memang tak enak untuk mengingat-ingat bahwa kebahagiaan sering perlu uang yang terkadang amis dan tenaga kasar yang keringatnya berbau aneh.

0 komentar:

Post a Comment